Pages

Tuesday, April 03, 2012

menembak dengan senapan PINDAD SS-1 V1 dengan jarak sasaran 100 meter dan dengan posisi tiarap di Batalyon Infanteri Lintas Udara 502 KOSTRAD – Kecamatan Jabung – Kabupaten Malang

TUGAS RESUME KEGIATAN
BASIC SHOOTING CLUB
BRAWIJAYA UNIVERSITY


Disusun oleh :

FUAD CAHAYA RIMBA



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
MALANG
2012
Resume kegiatan BASIC Shooting Club Universitas Brawijaya
“menembak dengan senapan PINDAD SS-1 V1 dengan jarak sasaran 100 meter dan dengan posisi tiarap di Batalyon Infanteri Lintas Udara 502 KOSTRAD – Kecamatan Jabung – Kabupaten Malang”

Sekilas Tentang Batalyon Infanteri Lintas Udara 502 :
Batalyon Infanteri Lintas Udara 502/Ujwala Yudha disingkat Yonif Linud 502/Ujwala Yudha adalah yonif lintas udara yang tergabung dalam Brigif Linud 18/Trisula Kostrad.
Yonif Linud 502/Ujwala Yudha diresmikan pada 17 Mei 1962.
Yonif Linud 502/Ujwala Yudha saat ini bermarkas di Jabung, Lalang, Jawa Timur.
Yonif Linud 502/Ujwala Yudha dibentuk pada tangga 17 Mei 1962 dilapangan sukorejo-Jember diadakan upacara peresmian,Berdirinya batalyon Raider yang ke-2 yg diberi nama Yonif 531/Raider dan kota jember sebagai pangkalannya. Adapun personel inti diambilkan dari Yonif 506 sebanyak 935 orang,kekurangannya diambilkan dari Batalyon jajaran Kodam VII/Brawijaya. Pada tanggal 30 September 1964 Yonif 531/Raider dipindahkan pangkalannya dari kota Jember ke Malang.Pada tanggal 19 Desember 1964 Batalyon menerima tunggul "UJWALA YUDHA" yang berarti: "ujwala"
  melambangkan semangat yang berkobar berapi-api/keberanian setiap anggota Yonif Linud 502/Ujwala Yudha.
"YUDHA"
  Melambangkan sifat kepahlawanan sebagai pejuang kemerdekaan yang gagah perwira.
Pada tanggal 22 April 1969 secara tertulis dan administrasi batalyon dipidahkan dari Kodam VII/Brawijaya ker Kostrad. Pada tanggal 31 Maret 1973 nama satuan berubah dari Yonif 531/Raider manjadi "Batalyon Infanteri Lintas Udara 502/Ujwala Yudha"

Kegiatan
            Kegiatan dimulai di Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang jam 05.30, setelah berkumpul dan melakukan absen setelah itu dilakukan upacara pengukuhan khusus untuk anggota baru yang sudah lolos BASIC Training tetapi belum dikukuhkan dan belum diambil sumpahnya sebagai anggota BASIC, acara ini selesai jam 06.30. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara dokumentasi di lapangan rektorat Universitas Brawijaya sambil menunggu angkutan truck milik Batalyon Infanteri Lintas Udara 502, setelah sesi dokumentasi selesai pada jam 06.55 lalu dilanjutkan dengan pemberangkatan, lalu para peserta dinaikkan ke dalam truck, setelah menunggu 10 menit lalu apra peserta diberangkatkan pada pukul 07.05.
            Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya para peserta sampai di Batalyon Infanteri Lintas Udara 502 yang berlokasi di Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, setelah peserta memasuki lapangan tembak maka diadakan pengenalan oleh pelatih, lalu apra peserta dibimbing untuk melakukan peregangan dan pemanasan, walaupun peregagan dan pemanasan yang dilakukan kabarnya hanya 1/8 dari total gerakan sebenarnya tetapi sudah cukup untuk membuat kami berkeringat. Lapangan tembak ini terletak pad` koordinat : 7°55'58"S   112°44'29"E, lapangan tembak ini bernama Lapangan Tembak 12 Jagoan, dinamakan demikian karena dulu waktu operasi Seroja di Timor – Timur ada 12 anggota dari YONIF LINUD 512 yang bertempur dengan gagah berani.
            Lalu acara dilanjutkan dengan penjelasan pelatih terhadap teknik dan dasar- dasar menembak senapan api, berikut ini adalah materi yang diberikan oleh pelatih :

A. Keamanan
1. Arahkan senjata ke tempat yang aman
Jangan arahkan senjata ke makhluk hidup dan selalu menanamkan mindset bahwa senjata kita selalu terisi dan siap tembak.
2. Jangan memasukkan jari
Keep your finger off the trigger” (kecuali sasaran sudah dalam bidikan), hal ini menghindari supaya trigger tidak tertekan atau tertarik pada saat yang tidak dikehendaki.
3. Pastikan kamar peluru kosong
Untuk mengecek kamar peluru kosong atau tidak bisa dilakukan dengan cara 3M yaitu melihat, meraba, dan mengokang.
meraba yaitu memasukkan jari dari lubang tempat magasen ataupun dari lubang blank ejector dengan cara menarik dan menahan tuas kokangan dibelakang lalu kamar peluru akan terlihat membuka dari sebelah kanan, lalu masukkan jari, setelah yakin kamar peluru sudah kosong jari dapat ditarik dari kamar peluru lalu tuas pengokang dapat dilepaskan.
Melihat dapat dilakukan dari lubang tempat magasen atau dari lubang blank ejector dengan cara menarik dan menahan tuas kokangan dibelakang lalu kamar peluru akan terlihat membuka dari sebelah kanan.
 Mengokang sebanyak tiga kali, lalu mengarahkan ujung laras ke udara lalu menarik pelatuk untuk memastikan bahwa tidak ada peluru di kamar peluru.

B. Otak
Otak (bahasa Inggris: encephalon) adalah pusat sistem saraf (bahasa Inggris: central nervous system, CNS) pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya.
Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat memengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak memengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.


C. Prinsip Dasar Menembak
1. Bidikan (5%)
2. Pegangan / Grip (5%)
3. Posisi (5%)
4. Picu (5%)
5. Koordinasi :
- Pengaturan nafas (nafas bidik tekan picu / NABITEPI)
- Konsentrasi
- Kekuatan
- Urutan langkah

1. Bidikan (5%)
- Jangan mengalihkan focus mata selama proses bidik hingga terjadinya letusan walaupun sesaat.
- Letakkan pipi secara normal dan hapalkan posisi penempatan pipi.
- Jangan pernah menghentikan gerakan penjera pada titik yang diinginkan karena gravitasi dan sistem keseimbangan tubuh ada pada otak tidak akan pernah bisa berhenti selama manusia itu masih hidup, jadi menghentikan gerakan penjera adalah mustahil.
- Follow trough (membuat gambar bidik / mengikuti sasaran)

2. Pegangan (5%)
- Kekuatan tidak boleh 100%, grip kekuatan 3 jari cukup 45% s/d 50%.

3. Posisi (5%)
- Teknik posisi adalah sarana untuj mengurangi besarnya gerakan pisir dan penjera pada wilayah sasaran.

4. Picu (70%)
- Mudah dipelajari namun perlu dilatih
- Melakukan sistem perintah dengan otak
   Jangan melakukan sistem perintah dengan saraf tulang belakang (gerak reflek)
- Penempatan jari pada picu
- Penarikan picu konstan
   Jangan dihentak atau dipaksa ditarik yang nantinya akan mengakibatkan jerking).
- Pastikan fokus mata tetap pada ujung penjera sampai letusan berakhir
Jangan mengalihkan fokus, jangan melirik, dan pastikan pisir dan penjera dalam keadaan jelas       lalu sasaran dalam keadaan buram.
- Waspada terhadap “locking time”
Locking time yaitu waktu dimana saat pelatuk ditarik lalu mengakibatkan mekanisme bekerja lalu sampai proyektil keluar dari laras senapan.

5. Koordinasi sistem (15%)
Koordinasi sistem adalah kesatuan langkah yang baku yang dilakukan petembak secara sistematis dalam menerapkan keempat teknik oleh organ tubuhnya termasuk langkah dalal menangani peralatan yang digunakan.

Dalam olah raga yang mempengaruhi adalah :
-          Individu si petembak (faktor internal)
-          Senjata (faktor alat)
-          Alam (faktor luar)
Pengecekan sebelum menarik picu :
-          Posisi apakah sudah oke?  OKE
-          Kelurusan apakah sudah oke?  OKE
-          Pegangan apakah sudah oke?  OKE
-          Fokus mata apakah sudah oke?  OKE
-          Picu  HAP (jalan) + tenaga = DOR…
Pemberian materi oleh pelatih ini selesai sekitar pukul 09.30, lalu acara dilanjutkan degan memisah team menjadi 2 yaitu team A dan team B, team A dan team B memiliki pelatih yang berbeda, hal ini menjadikan adanya perbedaan juga dalam pemberian materi lanjutan. Setelah ada pemberian materi lanjutan tentang posisi menembak dangan posisi tiarap maka dipersilahkan kepada 5 orang yang sudah siap untuk melakukan zeroing senapan, pelatih team A ada 2 orang, yang salah seorang diantaranya pemegang brevet menembak lanjut, dan keduanya pernah ditugaskan untuk menjadi pasukan perdamaian di Lebanon. Penembakan pertama  adalah zeroing dengan tiap anggota team A diberikan 1 (satu) peluru, setelah itu senjata di set ulang, setelah pengesetan ulang maka pelatih memberikan 3 (tiga) peluru tambahan untuk melakukan zeroing ulang dan koreksi, lalu zeroing dilakukan oleh anggota team a yang lain sehingga semua anggota team A sudah melakukan zeroing.
Setelah zeroing maka dilakukan scoring ke sasaran oleh anggota team A,sebanyak 5 orang per kloter, tiap orang diberikan amunisi sebanyak 10 butir, penomoran diambil secara isi kosong dengan nomor genap, lalu dilakukan pencatatan skor, setelah semua anggota team A menembak maka setelah itu adalah kesempatan bagi team B untuk melakukan zeroing dan scoring. Saat team B melakukan zeroing dan scoring maka team A diambil alih dan dilatih oleh pelatih utama, disini team A diajarkan cara memegang senapan yang baik dan benar dan secara berulang-ulang dengan maksud agar supaya teknik tersebut dapat mendarah daging dan membekas didalam otak tiap anggota team A.
Setelah itu team A dikembalikan ke pelatih sebelumnya dan disini kami diceritakan banyak hal mengenai senjata yang kami pegang, para pelatih, dan pengalaman para pelatih dalam hal menembak dan pengalamannya dalam penugasan di Lebanon. Selang beberapa waktu setelah konsumsi datang ke lapangan tembak maka para peserta dipersilahkan mengembalikan senjata ke tempatnya dan beristirahat untuk makan siang.
      Setelah makan siang maka dilakukan pemanasan ulang dan perbaikan posisi menembak, lalu setelah itu dilakukan scoring fase 2, tiap anggota team A diberikan 10 (sepuluh) butir peluru, lalu dilakukan penembakan dan dicatat skornya.
      Setelah fase ini dilewati oleh team A dan team B para pelatih dan Pembina klub melakukan penembakan dan scoring, setelah itu dilakukan pengecekan sasaran, setelah semuanya melakukan penembakan maka sebagai acara penutup ada evaluasi dan pemberian hadiah kepada juara 1 yaitu yang skornya paling banyak, dan semua sesi akhirnya ditutup dengan dokumentasi bersama tiap team dengan para pelatihnya masing – masing, lalu dilanjutkan dengan foto seluruh anggota dan pelatih.
      Setelah acara dokumentasi maka para peserta dipulangkan kembali menggunakan truck ke Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Brawijaya, setelah sampai tempat tujuan jam 17.50  lalu dilakukan briefing akhir dan pengumuman scoring 10 terbaik dan 10 terburuk seluruh kegiatan ini berakhir sekitar jam 18.10.

Senjata dan Amunisi :
-          Senjata yang digunakan adalah senjata PINDAD SS-1, SS1 adalah singkatan dari Senapan Serbu 1, senapan serbu yang banyak digunakan oleh TNI dan POLRI. Senapan ini diproduksi oleh PT. Pindad Bandung, berdasarkan senapan FN FNC dengan lisensi dari perusahaan senjata Fabrique Nationale (FN), Belgia. Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 4,01 kg. Senapan ini bersama-sama dengan M16, Steyr AUG dan AK-47 menjadi senapan standar TNI dan POLRI, tapi karena diproduksi di Indonesia, senapan ini paling banyak digunakan. SS-1 diproduksi dalam 2 konfigurasi utama, yaitu senapan standard dan karabin pendek. Versi senapan standar disebut SS1-V1 (FNC “Standard” Model 2000) dan karabin disebut SS1-V2 (FNC “Short” Model 7000). Kedua varian diatas dilengkapi dengan laras yang berisi pelintiran tembakan tangan kanan sepanjang 178 mm (untuk stabilisasi mengantisipasi peluru SS109 belgia yang lebih berat). Senjata yang digunakan kali ini adalah produksi antara tahun 1987 s/d 1989 dengan kondisi yang kurang layak (combat readiness rendah) untuk kegiatan olah raga menembak ataupun untuk peperangan yang sesungguhnya.

-          Amunisi  yang digunakan adalah peluru tajam MU5-TJ (5,56 x 45 mm Ball) dengan ujung dan pantat peluru berwarna hijau (ball), peluru ini digunakan pada senapan : SS1-V1, SS1-V2, SS1-V3, SS1-V5, M16-A2 Rifles, etc

Evaluasi pelatih terhadap peserta :
1.      Ketahanan
2.      Pipi (perletakan), walaupun dalam menarik nafas ataupun mengokang senjata yang macet pipi harus tetap menempel dipopor senjata.
3.      Picu (masih ada beberapa yang menyentak picu).
4.      Grip kurang (kuncian untuk menahan tolak balik senjata)

Opini pribadi :
      Secara keseluruhan acara berjalan lancar dan sangat menyenangkan, menurut saya pribadi ada satu permasalahan yaitu tentang senjata yang tidak semuanya homogen dalam hal detail desain dan bentuk, dan ada beberapa yang modelnya berbeda dalam kualiatas dan dalam detailnya yang akhirnya juga mempengaruhi performa si penembak, menurut pengamatan yang saya lakukan dari sejumlah sekitar 20an senjata 60% diantaranya bermasalah, diantaranya adalah senjata yang menjadi pegangan saya yang sering macet, setelah menembakan 1 atau 2 peluru senjata pasti macet, hal ini mengakibatkan perlu mengokang ulang, mengeluarkan magasen dan mengeluarkan selongsong peluru yang menyangkut pada rulah peluru yang diakibatkan oleh mekanisme blank ejector yang sudah lemah sehingga sudah tidak mampu lagi untuk melontarkan selongsong peluru keluar dari kamar peluru yang akhirnya sebelum selongsong sempat keluar dari kamar peluru mekanisme sudah membalik lagi yang berujung tersangkutnya selongsong pada kamar peluru atau pada ujung kamar peluru.
      Macetnya senjata tiap kali menembak ini mengakibatkan harus diperbaikinya senjata tiap kali menembak dan berujung pada posisi tangan dan posisi pipi yang tidak lagi sama dengan posisi waktu menembak sebelumnya, dan ujung-ujungnya grouping menjadi agak kacau, senjata pertama saya ini dengan nomor seri 87012970.
      Pada waktu scoring fase kedua saya melakukan pergantian senjata dengan senjata yang katanya lebih baik dari senjata pertama, tetapi ternyata malah senjata ini kondisinya lebih parah daripada yang pertama saya pakai dalam hal akurasi dan ketahanan, dengan senjata kedua ini tiap kali saya menembak juga senjata sering macet, yang bukan hanya dikarenakan mekanisme blank ejector tetapi juga karena mekanisme yang sudah aus yang berujung double feed, selongsong melintang di kamar peluru dan lain lain. Lalu akhirnya pengawas line mengganti senjata saya dengan senjata yang lain (senjata ketiga), dan lagi-lagi senjata ini juga macet dan akurasinya juga sama kacaunya dengan senjata kedua, alhasil scoring saya pada fase kedua ini jauh lebih buruk daripada scoring saya yang pertama. Akhirnya sayapun mengerti mengapa seorang prajurit senjatanya tidak pernah ganti kecuali jika senjata itu rusak parah, hal ini dikarenakan agar si individu mengenal betul karakteristik senjatanya walaupun senjatanya macet-macetan.
Scoring pertama :
10 = 2, 9 = 2, 8 = 4, 7 = 2, jumlah = 84
Scoring kedua :
7 = 1, 6 = 2, 5 = 3, 3 = 2, 2 = 1, 1 = 1, jumlah = 43
Scoring total = 84 + 43 = 127

Hasil konsultasi ke weapon expert:
      Dari penjelasan anda, yg paling sering menjadi penyebab kemacetan senjata is likely to be the magazine. Weak spring, tilted follower, dan deformed feed lips. Ke-tiga symptoms ini umum ditemukan di old, used, Stanag magazines spt yg dipakai SS1 (dan M16 juga). Selain itu, lubang di sisi kiri magazine dimana magazine latch mengunci saat magazine dimasukkan ke mag well di senjata kadang2 juga bisa worn out. Akibatnya magazine akan duduk lebih rendah dari posisi seharusnya yg dapat mengakibatkan all sorts of FTF issues.
Kemungkinan kedua adalah worn out extractor yg terpasang pada bolt. Extractor bisa worn out di dua tempat:
1. Spring becoming weak.
2. Extractor claw itself is worn and no longer able to positively grab the case rim. 
      Kedua sumber umum terjadinya FTF ini tidak menjadi alasan yg cukup kuat utk mengganti senjata2 itu. Keduanya adalah bagian dari regular maintenance yg cukup mudah dilakukan oleh prajurit pemakai senjata itu sendiri. Hell, even I can do it. All you need is a small hammer and a punch to drive the extractor pin out. Once the spring is about to come out, watch out for the extractor because it can shoot across the room (spring loaded).
Sumber FTF yg ketiga adalah ejector, namun ini sangat jarang menjadi masalah karena ejector di FNC/SS1 bersifat static yg berupa bagian dari receiver yg tidak bergerak dan cukup rigid. Beda halnya dengan ejector di M16 yg juga spring loaded and will get weak over time.
Look, infantry rifles are NOT match rifles. Zeroing capability mereka tidak cukup halus to make a big difference in zero setting from one individual to another selama si pemakai memiliki ukuran tubuh yg setara. Every infantry rifle memiliki standard battle-sight zero procedure. If this is done correctly, all these rifles should be combat effective when used by anyone who is competent enough to do it. The idea of battle-sight zero is to make sure members of the same unit who fight alongside one another will be able to pick up a different rifle and shoot it right away in combat without loosing his combat effectiveness from zeroing difference. Yes, it is best to use a rifle that you zero yourself. But in my experience shooting various military rifles, the battle-sight zero is quite effective for a "one size fits most" solution.



DAFTAR PUSTAKA

Wednesday, June 22, 2011

Mount Semeru / Gunung Semeru











Elevation 3,676 m (12,060 ft)
Prominence 3,676 m (12,060 ft)
Listing Ultra
Ribu

Location

Semeru
Java, Indonesia
Coordinates 8°6′28.8″S 112°55′12.0″ECoordinates: 8°6′28.8″S 112°55′12.0″E
Geology
Type Stratovolcano
Last eruption 2010 (continuing)
Climbing
First ascent Clignet (1838) (Netherland)
Easiest route Gubugklakah, Burno


Semeru
Semeru, or Mount Semeru (Indonesian: Gunung Semeru), is a volcano located in East Java, Indonesia. It is the highest mountain on the island of Java. The stratovolcano is also known as Mahameru, meaning 'The Great Mountain.[1] The name derived from Hindu-Buddhist mythical mountain of Meru or Sumeru, the abode of gods.


Geology
Known also as Mahameru the (Great Mountain), it is very steep rising abruptly above the coastal plains of eastern Java. Maars containing crater lakes have formed along a line through the summit of the volcano. It was formed south of the overlapping Ajek-ajek and Jambagan calderas.[1] Semeru lies at the south end of the Tengger Volcanic Complex.


Eruptive history
Semeru's eruptive history is extensive. Since 1818, at least 55 eruptions have been recorded (10 of which resulted in fatalities) consisting of both lava flows and pyroclastic flows. All historical eruptions have had a VEI of 2 or 3.[1]

Semeru has been in a state of near-constant eruption from 1967 to the present. At times, small eruptions happen every 20 minutes or so.[2]

Semeru is regularly climbed by tourists, usually starting from the village of Ranu Pane to the north, but though non-technical it can be dangerous. Soe Hok Gie, an Indonesian political activist of the 1960s died in 1969 from inhaling poisonous gases while hiking on Mount Semeru.


Mythology
Semeru is named from Sumeru, the central world-mountain in Buddhist cosmology and by extension Hinduism. As stated in legend, it was transplanted from India; the tale is recorded in the 15th-century East Javanese work Tantu Pagelaran. It was originally placed in the western part of the island, but that caused the island to tip, so it was moved eastward. On that journey, parts kept coming off the lower rim, forming the mountains Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuno and Welirang. The damage thus caused to the foot of the mountain caused it to shake, and the top came off and created Penanggungan as well.




IN BAHASA INDONESIA / DALAM BAHASA INDONESIA



Ketinggian 3.676 meter (12.060 kaki)
Daftar Ribu

Lokasi

Lokasi Jawa , Indonesia
Koordinat 8°6′28.8″LS,112°55′12″BT
Geologi
Jenis Stratovolcano (aktif)
Letusan terakhir 2008 (berlanjut)
Pendakian
Rute termudah Gubugklakah, Burno



Semeru
Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.
Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

Mahameru, adalah sebutan terkenal dari puncak Gunung Semeru dengan ketinggian ± 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl), menempatkan diri sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru termasuk salah satu dari gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, terletak diantara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang dengan posisi geografis antara 7°51’ - 8°11’ Lintang Selatan, 112°47’ - 113°10’ Bujur Timur.

Puncak Gunung Semeru (Mahameru) dapat terlihat dengan jelas dari Kota Malang dan beberapa tempat lainnya dengan bentuk kerucut yang sempurna, tapi pada kondisi yang sebenarnya di puncak berbentuk kubah yang luas dengan medan beralun disetiap tebingnya. Kawah Jonggring Saloko pada tahun 1913 dan tahun 1946 mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava kebagian selatan daerah Pasirian, Candipura dan Lumajang.

Gunung Semeru adalah bagian termuda dari Pegunungan Jambangan tetapi telah berkembang menjadi strato-vulkano luas yang terpisah. Aktivitas material vulkanik yang dikeluarkannya berupa Letusan abu, lava blok tua dan bom lava muda, Material lahar vulkanik bercampur dengan air hujan atau air sungai, Letusan bagian kerucut yang menyebabkan longsoran, Pertumbuhan lambat/berangsur dari butiran lava dan beberapa kali guguran lahar panas.

Formasi geologi Gunung Semeru merupakan hasil gunung api kwarter muda, dengan jenis batuan terdiri dari : abu pasir/ tuf dan vulkan intermedian sampai basis dengan fisiografi vulkan serta asosiasi andosof kelabu dan regosol kelabu dengan bahan induk abu/pasir dab tuf intermedian sampai basis. Bentuk struktur geologi menghasilkan batuan yang tidak padat dan tidak kuat ikatan butirannya, mudah tererosi dimusim penghujan.

Jenis tanahnya adalah regosol, merupakan segabungan tanah dengan sedikit perkembangan profil dengan sedikit perkembangan profil dengan solum dangkal, tipis pada bahan induk kukuh. Pada umumnya ditempat tinggi lainnya, daerah sepanjang route perjalanan dari mulai Ranu Pane (2.200 m dpl) sampai Puncak Semeru mempunyai suhu relatif dingin. Suhu rata-rata berkisar antara 30C–80C pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 00C–120C kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan es yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya.
Dinginnya suhu disepanjang route perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menjadi udara semakin dingin. Berdasarkan topografi kawasan secara makro, pada tiupan angin membentuk pola yang tidak menentu dalam arti dominasi arah angin sulit ditentukan selalu berubah-ubah. Bentuk topografi yang dilingkari oleh tebing tinggi sekitar 200-500 meter sebenarnya memungkin dapat menahan arus kecepatan angin, tetapi karena banyak celah/lorong tebing tersebut, maka arus angin tidak tertahan bahkan melaju dengan kecepatan yang lebih cepat.


Perjalanan
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang-pergi. Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota Malang atau Lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang dengan biaya per orang Rp.20.000,- hingga Pos Ranu Pani.
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat izin, dengan perincian, biaya surat izin Rp.6.000,- untuk maksimal 10 orang, Karcis masuk taman Rp.2.000,- per orang, Asuransi per orang Rp.2.000,-

Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani, desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Bagi pendaki yang membawa tenda dikenakan biaya Rp 20.000,-/tenda dan apabila membawa kamera juga dikenakan biaya Rp 5.000,-/buah. Di pos ini pun kita dapat mencari porter (warga lokal untuk membantu menunjukkan arah pendakian, mengangkat barang dan memasak). Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau Ranu Pani (1 ha) dan danau Ranu Regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.

Setelah sampai di gapura "selamat datang", perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam.

Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala.

Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Disini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Ranu Kumbolo

Di Ranu Kumbolo dapat mendirikan tenda. Juga terdapat pondok pendaki (shelter). Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi hari dapat menyaksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.

Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah di belakang ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya memasuki hutan Cemara dimana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.

Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung.

Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat beberapa bendera segitiga kecil berwarna merah. Semua barang bawaan sebaiknya tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo.
Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.


Gas beracun
Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Gas beracun ini dikenal dengan sebutan Wedhus Gembel (Bahasa Jawa yang berarti "kambing gimbal", yakni kambing yang berbulu seperti rambut gimbal) oleh penduduk setempat. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajat Celsius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajat Celsius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember - Januari sering ada badai.

Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan November 1997 Gunung Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.

Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Material yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gunung Semeru dan telah memakan beberapa korban jiwa, walaupun pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.

Soe Hok Gie, salah seorang tokoh aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di Gunung Semeru. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.


Topografi dan Iklim
Bentuk topografi yang berupa cekungan sering terjadi angin siklus. Angin yang bertiup dikawasan ini berkaitan erat dengan pola angin disekitarnya, yaitu Angin tenggara atau angin Gending, Angin timur laut dan Angin barat laut.

Kecepatan angin yang terjadi cukup kuat antara 8–30 knots, dimana saat musim angin kencang banyak dijumpai pohon tumbang. Angin ini bertiup antara bulan Desember – Pebruari, dan untuk mencegah bahaya disarankan agar wisatawan/pengunjung tidak melakukan pendakian ke gunung semeru.

Merupakan hal yang biasa bila terjadi kabut sepanjang route perjalanan pendakian pada pagi hari dan sore hari sampai malam hari. Didaerah Ranu Kumbolo dan Kalimati sebagai tempat untuk menginap/bermalam selalu ditutupi kabul yang tebal.

Keberadaan kabut yang terjadi didua tempat tersebut selain dinginnya suhu udara (proses kondensasi udara), juga angin yang bertiup didaerah tersebut sambil membawa kabut. Khusus di daerah Ranu Kumbolo dengan adanya danau yang cukup luas menjadi pendukung pembentukan kabut karena proses penguapan air danau.

Secara umum keadaan iklim di wilayah gunung Semeru dan sekitarnya termasuk type iklim B (Schmidt & Ferguson) dengan curah hujan antara 927 mm – 5.498 mm pertahun dan hari hujan 136 hari/tahun. Musim hujan jatuh sekitar bulan Nopember–April. Suhu udara di puncak Gunung Semeru pada bulan – bulan tersebut berkisar antara 2 derajat celcius – 4 derajat celcius.

Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan November - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat celsius.

Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin dingin.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun.


Penduduk
Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional merupakan suku asli yang beragama Hindu. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Uniknya, melihat penduduk di sekitar (Su-ku Tengger) tampak tidak ada rasa ketakutan walaupun menge-tahui Gunung Bromo itu berbaha-ya, termasuk juga wisatawan yang banyak mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada saat Upacara Kasodo.

Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun (Desember/Januari) pada bulan purnama. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Perebutan sesaji tersebut merupakan atraksi yang sangat menarik dan menantang sekaligus mengerikan. Sebab tidak jarang diantara mereka jatuh ke dalam kawah.


Taman nasional
Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.
Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain : Macan Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat Belibis yang masih hidup liar.

Vegetasi yang berada di wilayah Gunung Semeru dan sekitarnya yang termasuk dalam Zona Sub Alfin di dominir oleh jenis pohon Cemara Gunung (Casuarina Junghuhniana), Jumuju (Podocarpus sp), Mentigi (Vacinium varingifolium), Kemplangdingan (Albazialophanta) dan Akasia(Accasia decurrens).

Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominasi oleh Alang – alang (Imperata Cylindrica), Kirinyuh (Euphatorium odoratum), Tembelekan (Lantana camara), Harendong (Melastomo malabathicum) dan Edelwiss putih (Anaphalis javanica). Pada lereng – lereng yang curam menuju puncak Semeru sekitar Arcopodo dijumpai jenis paku-pakuan seperti Gleichenia volubilis, Gleichenia longisulus dan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di wilayah Semeru selatan.

Disekitar Gunung Semeru pada ketinggian lebih dari 3.100 meter dari permukaan laut, kondisinya merupakan batuan, pasir dan abu tanpa vegetsi sama sekali. Kehidupan fauna yang terdapat di sekitar Gunung Semeru sangat terbatas, baik jumlah maupuan jenisnya yang terdiri dari beberapa jenis burung, primata dan satwa liar lainnya, antara lain Macan Kumbang (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus Javanica) dan lain – lain. Di Ranu Kumbolo terdapat Belibis (Anas superciliosa) yang masih hidup liar.

Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.


Pendaki pertama
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.


Legenda gunung Semeru
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.


Aktivitas
12 Juni 2006, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak Surabaya, mencatat gempa vulkanik dengan kekuatan 1,8 Skala Richter (SR) akibat aktivitas Gunung Semeru (3.676 mdpl).


Rute Pendakian
Pada bulan-bulan libur sekolah, pendakian menuju Gunung Semeru bakal rame. Ranu Kumbolo yang menjadi favorit para pendaki dan sekaligus sebagai camp sementara untuk istirahat sebelum menuju puncak akan berubah menjadi perkampungan baru para pendaki dari berbagai penjuru. Untuk Menuju daerah awal pedakian kita bisa mengunakan dua jalur yaitu dari arah Senduro – Lumajang dan Tumpang-Malang.
Jalur Senduro–Lumajang

Jalur ini relatif sepi bagi pendakian karena belum begitu terkenal di kalangan pendaki, Akses transportasi juga masih agak susah dijumpai untuk menuju ke Ranu Pani dari Senduro. Bila kita melewati jalur sini kita bisa menikmati hutan hutan yang masih relatif alami dan tempat persembahyangan agama hindu di Senduro yang merupakan pura terbesar di Jawa. Dari Senduro ke Ranupani membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan bermotor. Dari setelah tiba di Ranupani perjalanan sama dengan jalur Tumpang –Malang.
Jalur Tumpang - Malang

Pendakian dari arah Malang merupakan jalur favorit karena ketersedian akses tranportasi dan akomodasi yang mudah di dapat. Kota malang yang merupakan kota yang memiliki banyak panorama alam yang indah serta tempat tujuan wisata yang mudah dicapai. Kota yang dijuluki sebagai tempat belajar yang nyaman ini memungkinkan kita berkunjung ke pencinta alam salah satu perguruan tinggi yang terdapat di kota ini.

Dari Kota Malang perjalanan di lanjutkan menuju ke Tumpang via Terminal Arjosari dengan Angkot selama + 30 menit. Di Tumpang kita bisa langsung naik jeep dengan tarif berkisar Rp.15.000 sampai 25.000,- atau Truk yang menuju ke Ranupani. Disini kita bisa juga bermalam di tempat pemilik jeep bila kita kemalaman dan besoknya melanjutkan perjalanan. Logistik bisa di dapat di sini serta sarana telepon juga sudah banyak.

Dari Tumpang perjalanan dilanjutkan ke Ranu pani dengan melewati Gubuklakah, yang merupakan Desa penghasil apel lalu Ngadas, Tempat Suku tengger bermukim serta Jemplang–Bantengan ( Disini pemandangan ke Gunung Bromo nampak bagaikan hamparan permadani bila awal musin hujan mulai atau akan berahkir) . Perjalanan Tumpang ke Ranu pani membutuhkan waktu sekitar 4–5 jam.

Ranu Pani (2000 m dpl) adalah sebuah dusun terahkir perjalanan bermotor dengan luas 279 Ha. Ditempat ini terdapat Pos Pemeriksaan Pendaki Gunung dan fasilitas yang ada berupa Pondok Pendaki, Pondok Penelitian, Pusat Informasi dan Kantor Resort, Wisma Cinta Alam, Wisma tamu dan Bangunan Pengelola.

Ditengah perkampungan Ranu Pani terdapat Danau (Ranu) Pani yang merupakan kawasan wisata yang mengasikan. Aktivitas memancing dan berjalan mengelilingi danau merupakan pengalaman yang terkesan. Dari Ranu Pani bila kita berjalan menyusuri jalan setapak lurus akan sampai di Ranu Regulo. (15 menit). Di Pos Ranu Pani kita juga dapat melakukan proses perijinan tetapi lebih baik perijinan dari kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828.

Dari Ranu Pani perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan beraspal sepanjang ½ kilometer menuju jalan setapak pendakian menuju ke Ranu Kumbolo (2.390 m dpl). Melewati tanah pertanian daerah Watu Rejeng perjalanan menanjak di mulai. Disekitar perjalanan jalan ada yang tertutup oleh pohon tumbang/roboh ke jalan sehingga sesekali kita merayap di bawah tumbuhan rubuh. Nuansa perjalanan banyak dijumpai penduduk yang mencari kayu bakar serta burung di sepanjang route perjalanan.

Jarak dari Ranu Pani ke Watu Rejeng sekitar 5 Km dengan waktu temput 90 menit. Lalu untuk sampai di Ranu Kumbolo membutuhkan waktu 90 menit dengan jarak 5 km. dan di Ranu Kumbolo kita bisa bermalam. Total Perjalanan dari Rani Pani Ke Ranu Kumbolo 3–4 jam perjalanan dengan jarak sekitar 10 Km.

Ranu Kumbolo (2.390 m dpl) merupakan lembah dan terdapat danau/ranu yang luasnya 12 ha. Daerah ini tempat peristirahatan yang memiliki pemandangan dan ekosistem dataran tinggi yang asli. Panorama alam di pagi hari akan lebih menakjubkan berupa sinar matahari yang terbit dari celah – celah bukit menunjukan warna – warni yang membuat di sekitar danau berwarna kemerah–merahan dan kekuningan, ditambah uap air diatas danau seakan-akan keluar dari danau tersebut. Fasilitas yang terdapat disini berupa Pondok Pendaki dan MCK untuk istirahat dan memasak serta berkemah. Di daerah ini terdapat Prasasti peninggalan jaman purbakala dn diduga merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Dari Ranu Kumbolo kita bisa menuju ke Pangonan Cilik yang merupakan sebuah nama untuk kawasan padang rumput yang terletak di lembah Gunung Ayek-Ayek yang terletak tidak jauh dari Ranu Kumbolo. Asal usul tersebut oleh masyarakat setempat dikarenakan kawasan ini mirip dengan padang penggembalaan ternak (pangonan). Daya tarik dari kawasan ini merupakan lapangan yang relatif datar ditengah-tengah kawasan yang disekitarnya dengan konfigurasi berbukit-bukit gundul yang bercirikan rumput sebagai type ekosistem asli, sehingga memberikan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

Setelah dari Ranu Kumbolo perjalanan diteruskan ke Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta, yang merupakan tanjakan yang lumayan memeras tenaga dan diteruskan melewati Savana Oro-oro ombo (30 menit). Daerah ini merupakan padang rumput luasnya + 100 Ha berada pada sebuah lembah yang dikelilingi bukit–bukit gundul dengan tipe ekosistem asli tumbuhan rumput, lokasinya berada dibagian atas tebing yang bersatu mengelilingi Ranu Kumbolo. Padang rumput ini mirip sebuah mangkuk dengan hamparan rumput yang berwarna kekuningan, kadang – kadang pada beberapa tempat terendam air hujan.

Perjalanan diteruskan ke Cemoro Kandang memerlukan waktu sekitar 3–4 jam perjalanan pendakian dan diteruskan melewati Padang Rumput–Jambangan dan menuju ke Kalimati. Di sini kita dapat bermalam dengan fasilitas Pondok pendaki dan kebutuhan air untuk memesak dapat diambil dari Sumber Mani ( 15 Menit). Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati memerlukan waktu sekitas 4-5 jam perjalanan pendakian.

Setelah dari Kalimati kita menuju ke Arcopodo (2-3 jam). Arcopodo merupakan daerah yang berada dilereng puncak Gunung Semeru dan dapat digunakan untuk mendirika tenda gumn mencapai puncak Mahameru. Pagi hari setelah bermalam dari Kalimati atau Arcopodo perjalanana pendakian kita lanjutkan menuju ke puncak Jonggring Saloko dengan melewati tanah berpasir dengan kemiringan hampir 60 – 70 derajat. Diperlukan kewaspadaan khusus dalam melewati medan ini karena banyak batu – batu yang longsor oleh angin atau pendaki di atas kita. Perjalanan Arcopodo ke Puncak membutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan pendakian.

Puncak Mahameru atau Puncak Jonggring Saloko memiliki keunikan pada setiap 10 – 15 menit sekali menyemburkan abu dan batuan vulkanik yang didahului semburan asa berwarna hitam kelam membumbung tinggi ke angkasa raya seakan – akan menyelimuti seluruh puncak. Suhu di puncak Mahameru kadang–kadang 0–4 derajat celcius yang disertai kabut yang tebal dan badai angin.


Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi
Cemorolawang. Salah satu pintu masuk menuju taman nasional yang banyak dikunjungi untuk melihat dari kejauhan hamparan laut pasir dan kawah Bromo, dan berkemah.
Laut Pasir Tengger dan Gunung Bromo. Berkuda dan mendaki gunung Bromo melalui tangga dan melihat matahari terbit.
Pananjakan. Melihat panorama alam gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru.
Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Puncak Gunung Semeru. Danau-danau yang sangat dingin dan selalu berkabut (± 2.200 m. dpl) sering digunakan sebagai tempat transit pendaki Gunung Semeru (3.676 m. dpl).
Ranu Darungan. Berkemah, pengamatan satwa/ tumbuhan dan panorama alam yang menawan.

Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d Oktober dan bulan Desember s/d Januari.
Cara pencapaian lokasi: Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km, Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 km, dan Jemplang-Ranu Pani-Ranu Kumbolo, 16 km. Atau dari Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km. Dari Malang ke Ranu Pani menggunakan mobil sekitar 70 menit, yang dilanjutkan berjalan kaki ke Puncak Semeru sekitar 13 jam.

Sebelum melakukan pendakian ke gunung semeru usahakan terlebih dahulu mencari infomasi ke Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru,
Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100
Telp. 0341 – 491828

atau ke Organisasi Pencinta Alam misalnya
IMPALA UNIBRAW,
Jl. MT. Haryono 161 B (Kampus UNIBRAW) Malang Telp. 0341- 560576
Website : http://www.impalaunibraw.or.id/
Facebook : http://www.facebook.com/impalaub

atau OPA yang kamu kenal lainnya. Karena Pendakian ke Gunung Semeru tidak terus di buka atau sewaktu – waktu di tutup karena aktivitas kawah yang terus bergejolak atau ada kejadian alam disekitar jalur pendakian.

Kantor taman nasional Bromo, Tengger, Semeru :
Jl. Raden Intan No. 6 Kotak Pos 54, Malang Telp. (0341) 491828; Fax. (0341) 490885
Jl. Panda No. 8, Malang Telp. (0341) 551040
E-mail: tn-bromo@malang.wasantara.net.id

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 278/Kpts-VI/97 dengan luas 50.276,2 hektar
Ditetapkan ----
Letak Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Kab.
Lumajang, dan Kab. Malang, Provinsi
Jawa Timur
Temperatur udara 3° - 20° C
Curah hujan Rata-rata 6.600 mm/tahun
Ketinggian tempat 750 - 3.676 m. dpl
Letak geografis 7°51’ - 8°11’ LS, 112°47’ - 113°10’ BT

Usahakan perijinan dilakukan 3 hari sebelum pendakian via e–mail, surat atau titip ke OPA yang ada (yang dikenal). Hal ini dilakukan agar saat pendakian ramai tidak mendapatkan ijin setelah sampai lokasi pendakian.

Bila anda di puncak Mahameru usahakan jangan terlalu lama karena pada siang hari arah angin cenderung ke utara sehingga asap akan bergerak ke utara. Karena semburan asap bisa mengakibatkan keracunan dan gangguan pernapasan yang bisa berakibat meninggal seperti kejadiaan yang pernah terjadi di puncak ini.

Source / sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Semeru
http://id.wikipedia.org/wiki/Semeru
http://khatulistiwa.info/gunung/3-semeru-dan-mahameru.html
http://stemdapala.tripod.com/semeru.htm
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_bromo.htm

Saturday, March 05, 2011

Pacitan Regency - East Java - Indonesia

Pacitan Regency



Pacitan
— Regency —
Motto: Tata Pramana Hargeng Praja
Coordinates: 8°12′S 111°7′ECoordinates: 8°12′S 111°7′E
Country Indonesia
Province East Java
Area
- Total 1,389.87 km2 (536.6 sq mi)
Population (2003)
- Total 538,000
- Density 387.1/km2 (1,002.5/sq mi)
Website www.pacitan.go.id

Pacitan (Indonesian: Kabupaten Pacitan) is a regency located in the southwestern East Java Province, with Central Java Province on its west border. Located between 7.55° - 8.17°S and 110.55° - 111.25°E. The borders of Pacitan Regency are: Wonogiri Regency (Central Java) in the west, Ponorogo Regency and Wonogiri Regency in the north, Trenggalek Regency in the east, and Indian Ocean in the south. The capital of Pacitan Regency is Pacitan.

Geography
The area of Pacitan Regency is about 1,342.42 km². Most of it are mountainous and rocky, and having some rocky canyon. That kind of area covers about 88% of the regency, and this is because Pacitan is located in the Thousand Mountains that stretched along Java. The highest mountain in Pacitan is Mount Lima in Kebonagung, and Mount Gembes in Bandar as the spring of Grindulu River.


Comparison of the land conditions:

Flat (0 - 5% steepness) = 53.7 km² (40%)
Bumpy (6 - 10% steepness) = 134.24 km² (10%)
Wavy (11 - 30% steepness) = 322.18 km² (24%)
Hilly (31 - 50% steepness) = 698.06 km² (52%)
Mountainous (more than 51% steepness) = 134.24 km² (10%)

Generally, the land in Pacitan can be divided into two categories, calcium in the south, and fertile land in the north. The land consists of lithosal association, red mediterranean lithosal, tuf and volcanic compound, reddish lithosal complex, and grey alluvial, clay sediments containing many potential minerals. The minerals are feldspar, ball clay, bentonite, pyrophylite, calcite, gips, phosphate, silical stone, coal, dolomite, gemstone, tin, and mangan.

Pacitan Regency consists 130.87 km² of rice fields and 1,211.55 km² of dry land. According to the kind of irrigations, the rice fields can be grouped into: technical irrigation rice field (16.06 km²), half technical irrigation rice field (11.88 km²), simple irrigation rice field (40.63 km²), and rain-dependent rice field (62.3 km²).

Political divisions
Pacitan is divided by 12 subdistricts:

Pacitan
Kebonagung
Arjosari
Tulakan (lorok)
Ngadirojo
Punung
Pringkuku
Donorojo
Nawangan
Tegalombo
Sudimoro
Bandar

Notable people
Pacitan is also the birthplace of the former army general and the current and first directly elected President, Susilo Bambang Yudhoyono.


Kabupaten Pacitan

Peta lokasi Kabupaten Pacitan
Koordinat : 110º 55’ - 111º 25’ Bujur timur dan 7º 55’ - 8º 17’ Lintang Selatan
Motto Tata Pramana Hargeng Praja
Provinsi Jawa Timur
Ibu kota Pacitan
Luas 1.389,87 km²
Penduduk
· Jumlah 538.000 (2003)
· Kepadatan 387 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 12
· Desa/kelurahan 159/5
Dasar hukum -
Tanggal -
Bupati H. Sujono
Kode area telepon 0357
DAU Rp. -
Kabupaten Pacitan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Pacitan

Geografi
Kabupaten Pacitan terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di utara, Kabupaten Trenggalek di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) di barat. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan kapur, yakni bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Tanah tersebut kurang cocok untuk pertanian.

Pacitan juga dikenal memiliki gua-gua yang indah, diantaranya Gua Gong, Tabuhan, Kalak, dan Luweng Jaran (diduga sebagai kompleks gua terluas di Asia Tenggara). Di daerah pegunungan seringkali ditemukan fosil purbakala.

Transportasi
bukota Kabupaten Pacitan terletak 101 km sebelah selatan Kota Madiun. Terminal utama adalah terminal Arjowinangun. Akses jalan timur (dari Ponorogo & Madiun) yang cukup banyak tikungan tajam masih menjadi kendala utama transportasi, sementara akses jalan barat ke arah Jawa Tengah ada 2 pilihan, yaitu melewati jalur selatan dengan rute lebih panjang namun jalan relatif lebar atau melewati rute Sedeng dengan jarak tempuh lebih pendek namun harus melewati tanjakan sedeng barata (desa Sedeng) yang cukup tajam, sehingga bus besar tidak memungkinkan lewat jalur ini.

Rute terjauh dari akses jalur timur adalah ke Surabaya yang dilayani bus besar patas AC, namun dalam 1 hari hanya ada 2x pemberangkatan dari dan ke Pacitan. Rute selanjutnya adalah Ponorogo - Pacitan dilayani bus 3/4, armada tipe ini cukup banyak sehingga dalam 1 hari lebih dari 5 pemberangkatan bus dari terminal Arjowinangun.

Rute barat (ke Surakarta) dilayani bus AKAP dengan jumlah yang cukup banyak, namun hanya beroperasi dari jam 05.00 hingga 16.00. Untuk rute barat yang lewat Sedeng hanya dilayani kendaraan umum tipe kecil seperti colt dan carry dengan pemberhentian terakhir di Kecamatan Punung.

Pembagian administratif
Secara administratif Pacitan terbagi menjadi 12 kecamatan:

Pacitan
Kebonagung
Arjosari
Tulakan
Ngadirojo
Punung
Pringkuku
Donorojo
Nawangan
Tegalombo
Sudimoro
Bandar

Perekonomian
Kondisi geografis Pacitan yang sebagian besar berbukit tandus menyebabkan daerah ini kurang cocok untuk bercocok tanam padi sehingga ketela pohon atau singkong menjadi alternatif sejak dahulu.

Hasil pertanian utama Pacitan adalah padi, singkong, cengkeh, kelapa dan kakao yang baru dibudidayakan beberapa tahun terakhir. Potensi bahan tambang juga cukup besar di kawasan Pacitan. Kerajinan batu akik yang terpusat di kawasan Donorojo, sedikit banyak telah menyumbang nilai penting bagi Pacitan.

Makanan khas
Makanan khas Pacitan adalah nasi tiwul, bahkan penganan ini dahulu merupakan makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat Pegunungan Kidul seperti Wonogiri, Wonosari, Pacitan, dan Trenggalek. Nasi tiwul terbuat dari gaplek (umbi dari ketela pohon yang dikeringkan) yang kemudian ditumbuk dan ditanak.

Tokoh penting
Presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, lahir di Pacitan pada 9 September 1949. Semasa era pemerintahan orde baru, Haryono Suyono juga pernah menjabat sebagai menteri BKKBN.

http://www.pacitankab.go.id/