Thursday, December 02, 2010

Alex Evert Kawilarang (Salah Satu Pendiri KOPASSUS)

Alex Evert Kawilarang

Alex Kawilarang (23 February 1920 - 6 June 2000) is an Indonesian national hero, a freedom fighter and founder of the military unit 'Kesko TT' in 1952. This was the earliest name of the now famous Indonesian special forces unit called Kopassus. However in 1959 he was also a General in the separatist Permesta movement where he encountered Kopassus as his opponent.

Colonel Kawilarang was born in Meester Cornelis (now Jatinegara) in the Dutch East Indies, and died in Jakarta, Indonesia. His father Major A.H.H. Kawilarang was a professional soldier in the Dutch colonial army (KNIL). Both his parents are from the Minahasa. His first Indo (Dutch-Indonesian) wife is Nelly van Amden with whom he had a daughter and a son.


Alex Kawilarang enjoyed comprehensive European schooling and before World War II he was a KNIL officer like his father, responsible for training cadets. After fighting the Japanese during the invasion of the Dutch East Indies, he slowly developed an appreciation for the rhetoric of the charismatic Indonesian nationalist Sukarno and became strongly convinced that the time for an independent Indonesian state had arrived.

During the Japanese occupation Menadonese, Ambonese and Indo people were often randomly arrested during raids and severly tortured by the Kempeitai. Kawilarang survived several Japanese tortures (1943 and 1944), but suffered lifelong disability in his right arm and numerous scars.

Kawilarang recalls: "Someone in the warung [food stall] said: "Japan will grant the Indonesian people its freedom." I could not ascribe any sense at all to such small talk. Impossible! That was my opinion. But I remained silent. I didn't feel much for more torture... A news paper wrote: "Japan is an old friend." Lies! I thought."

In 1944 Kawilarang's father died during the 'Junyō Maru' disaster. The Japanese cargo ship carrying 3,000 Menadonese, Ambonese, Indo-European, Dutch, British, Australian, American POW's and over 3,500 Javanese Romushas (forced laborers) was sunk by a British submarine. Kawilarang recalls being told about the tradegy: "I prayed in silence. I did not cry. The Japanese had given me enough practice in digesting pain and suffering in silence."


Like other Dutch trained military man such as General Nasution he became one of the leading founders of the Indonesian national army (TNI) after World War II. During the early years of the Indonesian independence struggle he opposed his former KNIL colleagues in combat. He was liaison officer to the British armed forces, military governor of Aceh and commander of various military units which he led into battle numerous times to protect the unitarian state of the young Republic of Indonesia.

During the Andi Aziz uprising in Makassar (5 April 1950) Kawilarang was Commander of the 'TT VII / Wirabuanahe' troops and commanded future president Suharto in the crackdown of the South Sulawesi insurgency.

He played a key role in the ferocious battles against the well trained Mollucan ex-KNIL soldiers fighting for the separatist RMS movement in the Moluccas. Although better trained and renowned for their fighting skills the resistance of the Mollucan soldiers was eventually put down. This battle prompted Kawilarang to establish Indonesias own special forces. On April 15, 1952 he founded the Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT). Now known as Kopassus.

From 1956 to 1958 Kawilarang was granted the prestigious position of military attaché to the USA. He then developed the conviction that a federal Indonesian state with greater levels of independence from the central government in Jakarta was necessary. He resigned his position and became a leader of the so called Permesta movement, where he took up arms against the TNI. After the bombing of Manado this separatist movement was eventually also put down.


Kawilarang was imprisoned but somehow still enjoyed an amiable relationship with President Sukarno and a general respect as a war hero of the independence struggle and was pardoned and rehabilitated in 1961. However due to his role as Permesta commander he never received the militairy distictions: 'Bintang Gerilya' and 'Bintang Jasa GOM'. He resigned as TNI colonel and became part of the influential Indonesian ex-military society called purnawirawan. Putting his fighting years behind him he made amends with all his former opponents and even visited The Netherlands several times for reunions with KNIL pensioners before his death in 2000.

In his biography Kawilarang reflects on the virtues of comradery between men at arms and nobility among officers. During post war reunions with his former Dutch classmates at the Bandung school for officers he concludes: "Comradery is deeply rooted in their soul. I still wonder about the comradery between our own [Indonesian] cadets. In times of war combat is a duty. Comradery and humanity are a whole different chapter. I am convinced our state philosophy, the 'Pancasila' breathes the same virtue."

April 1999, he was appointed Honorary Member of the Kopassus Special Forces and received the red beret.

His son Alexander Edwin Kawilarang born in 1954, is head of the purnawirawan organization FKPPI and as such part of the so called Keluarga Besar Purnawirawan (KBK), which translates to English as the 'Greater Family of Ex-military'. Under the 'Orde Baru' (Post Sukarno New Order) he also was an official in the Suharto owned company 'Bambang Tri (PT Bimantara)'.


* Conboy, Kenneth J. Kopassus: inside Indonesia's special forces (Equinox Publishing, Jakarta, 2003) ISBN 979 95898 8 6
* Kawilarang, A.E., Officier in dienst van de Republiek Indonesië. (English: 'Officer in service of the Republic of Indonesia' translated into Dutch after the original Indonesian edition, P.H. & H.J. Geurink, Jakarta.), 3rd. Edition, Warung Bambu, Breda, 1994.

1. ^ Kawilarang, A.E., Officier in dienst van de Republiek Indonesië., [Original publication: Ramadhan K.H. A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih: pengalaman 1942-1961 (Publisher: Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988)], (Publisher: Warung Bambu, Breda, 1994) P.23 ISBN 90 801192 4 5
2. ^ Kawilarang, A.E., Officier in dienst van de Republiek Indonesië., [Original publication: Ramadhan K.H. A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih: pengalaman 1942-1961 (Publisher: Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988)], (Publisher: Warung Bambu, Breda, 1994) P.28 ISBN 90 801192 4 5
3. ^ Original Indonesian text: "Hidup manusia memang tragedi, Kawilarang adalah salah satu perwira kesayangan Bung Karno, namun ia dipenjara oleh rezim Sukarno."TNI watch article.
4. ^ Original Indonesian text: Sang Kolonel adalah pendiri Kopassus (waktu itu bernama Korps Komando TT-III, lalu diambil alih Markas TNI-AD menjadi KKAD - Korps Komando Angkatan Darat). Sayang, setelah terlibat Pergolakan Permesta, selaku Panglima Besar Angkatan Perang Permesta, dia tidak mendapat: Bintang Gerilya, Bintang Jasa GOM (dia sendiri yg memimpin perangnya), dll. Kopassus website. Overview awards.
5. ^ Kawilarang, A.E., Officier in dienst van de Republiek Indonesië., [Original publication: Ramadhan K.H. A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih: pengalaman 1942-1961 (Publisher: Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988)], (Publisher: Warung Bambu, Breda, 1994) P.70 ISBN 90 801192 4 5
6. ^ Original Indonesian text: Setahun sebelum dia meninggal dunia, pada HUT Kopassus April 1999, dia diangkat menjadi Anggota Kehormatan Kopassus dengan menerima topi baret merah dan pisau baret. Kalo kikis satu tahun lagi, pasti mo jadi peristiwa yang memalukan Kopassus: "sang pendiri Kopassus satu2nya itu tidak pernah diberi penghargaan militer dari pemerintah RI dan dari 'TNI sekarang ini lebih baik dibubarkan saja' sedikitpun."Kopassus website.
7. ^ TNI watch article.


Alex Evert Kawilarang (lahir di Batavia (kini Jakarta), 23 Februari 1920 – meninggal di Jakarta, 6 Juni 2000 pada umur 80 tahun) adalah salah seorang perwira militer yang termasuk Angkatan '45 dan mantan anggota KNIL.

Latar belakang

Alex lahir dari sebuah keluarga militer. Ayahnya, A.H.H. Kawilarang, adalah seorang mayor KNIL asal Tondano, sementara itu ibunya, Nelly Betsy Mogot, berasal dari Remboken. Kawilarang, seorang suku Minahasa dari sub-suku Toulour.


Alex menempuh pendidikan dasarnya di sebuah Europeesche Lagere School (ELS), mula-mula di Tjandi, Semarang dan kemudian di Tjimahi, Jawa Barat. Selesai dari situ, ia melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS-V) di Bandoeng, setara dengan SMP/SMA yang lamanya 5 tahun.

Selesai dari pendidikan menengahnya, Alex mengikuti jejak ayahnya dan mengikuti pendidikan militer, mula-mula di Corps Opleiding Reserve Officeren (CORO) (Korps Pendidikan Perwira Cadangan KNIL) (1940), yang dilanjutkannya ke Koninklijk Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan) (KMA) darurat di Bandoeng dan Garoet, Jawa Barat (1940-1942).

Kelak ia juga sempat mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando AD (SSKAD) di Jakarta.

Karier sebagai militer

Kawilarang mengawali kariernya sebagai Komandan Pleton Kadet KNIL di Magelang pada bulan 1941-1942. Pada 11 Desember 1945 ia menjadi perwira penghubung dengan pasukan Inggris di Djakarta dengan pangkat mayor. Pada Januari 1946 ia menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat, dengan pangkat letnan kolonel. Tiga bulan setelah itu, pada April-Mei 1946, ia diangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor, dan pada bulan Agustus 1946 hingga 1947 ia diberi kepercayaan sebagai Komandan Brigade II/Suryakencana - Divisi Siliwangi di Sukabumi, Bogor dan Tjiandjur.

Pada 1948-1949, Kawilarang menjabat sebagai Komandan Brigade I Divisi Siliwangi di Yogyakarta, dan pada 28 November 1948 ia juga menjabat sebagai Komandan Sub Teritorium VII/Tapanuli, Sumatera Timur dan selatan.

Pada 28 Desember 1949 ia menjabat sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara merangkap Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel. Pada 21 Februari 1950, ia mendapatkan kepercayaan tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium I/Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan.

Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi yang di kemudian hari diubah namanya menjadi Kodam III/Siliwangi. Sebelumnya pada 15 April 1950 ia telah diangkat sebagai Panglima Operasi Pasukan Ekspedisi.

Dalam kedudukannya ini, Kawilarang memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku, dan Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Pada April 1951, ia merintis pembentukan komando pasukan khusus TNI dengan nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwang. di Batujajar, Jawa Barat. Kesatuan ini merupakan cikal bakal dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sekarang.

Pada 10 November 1951 hingga 14 Agustus 1956, Kawilarang diangkat menjadi Panglima Komando Tentara dan Territorium III/Siliwangi yang berkedudukan di Bandung.

Pada 17 Oktober 1952, Kawilarang bersama-sama dengan sejumlah tokoh militer lainnya (a.l. A.H. Nasution, T.B. Simatupang, dll), terlibat dalam apa yang dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober, yang menentang campur tangan pemerintah dalam urusan militer.

Menempeleng Soeharto

Kawilarang dikenal sebagai panglima yang pernah menampar Letkol. Soeharto yang saat itu adalah salah seorang bawahannya.

Pada tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Kawilarang baru saja melapor kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman. Namun Soekarno malah menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Ternyata Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar, telah melarikan diri ke lapangan udara Mandai.

Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto, sambil menempelengnya.

Bergabung dengan Permesta

Dari September 1956 hingga Maret 1958 Kawilarang menjabat sebagai atase militer pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, Amerika Serikat, dengan pangkat brigadir jenderal. Ketika pemberontakan PRRI/Permesta meletus di tanah air, Kawilarang segera melepaskan jabatannya sebagai atase militer lalu minta pensiun. Ia kembali ke tanah air dan langsung ke Sulawesi Utara untuk menjabat sebagai Panglima Besar/Tertinggi Angkatan Perang Revolusi PRRI (1958) dan Kepala Staf Angkatan Perang APREV (Angkatan Perang Revolusi) PRRI, dengan pangkat mayor jenderal dari Februari 1959 hingga Februari 1960.

Pada 1960-1961, Kawilarang menjabat sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Permesta.

Pihak Permesta akhirnya turun gunung dan bersedia berunding dengan pihak tentara Republik Indonesia yang dipimpin oleh Jend. Nasution. Menurut Kawilarang, sebelumnya telah tercapai kesepakatan bahwa pasukan Permesta akan membantu pihak TNI untuk bersama-sama menghadapi pihak komunis di Jawa. Karenanya, Kawilarang merasa menyesal ketika Nasution tidak memegang janjinya.

Pada 1961, Kawilarang menerima amnesti dan abolisi dari Presiden Soekarno melalui Keppres 322/1961. Namanya kemudian direhabilitasi. Kawilarang kemudian pensiun dari dinas TNI, namun pangkatnya diturunkan menjadi kolonel purnawirawan.

Kehidupan sebagai swasta

Pada 1972 Kawilarang menjabat sebagai wakil manajer umum Jakarta Racing Management, yang mengelola pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur.

Masa tua dan kematian

Pada 15 April 1999, Kawilarang akhirnya memperoleh pengakuan atas jasa-jasanya dalam ikut membentuk Kopassus. Pada peringatan hari jadi Korps tersebut yang ke-47, Kawilarang diterima sebagai Warga Kehormatan Kopassus di Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur. Sebagai tandanya, ia dianugerahi sebuah baret merah dan pisau komando.

Pada 6 Juni 2000, Kawilarang meninggal dunia akibat komplikasi beberapa penyakit di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan dimakamkan dua hari kemudian di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Des Alwi, seorang tokoh pemuda 1945 menyebut Kawilarang sebagai seorang tentara asli yang jujur dan tidak main politik. Tindakannya menempeleng Soeharto tampaknya tidak pernah dimaafkan oleh presiden kedua RI itu, sehingga sampai Kawilarang meninggal, ia tidak pernah berbicara dengan bekas atasannya itu. Baru setelah Soeharto turun dari jabatannya dan digantikan oleh B.J. Habibie, Kawilarang memperoleh penghargaan atas jasa-jasanya.


Kawilarang menikah dua kali: pertama dengan Petronella Isabella van Emden dan bercerai pada 1958, dan kedua dengan Henny Olga Pondaag, bekas istri Ventje Sumual, sahabatnya dalam perjuangan Permesta. Dari pernikahannya yang pertama, ia memperoleh dua orang anak; Aisabella Nelly Kawilarang dan Alexander Edwin Kawilarang. Dari pernikahannya yang kedua, ia memperoleh seorang anak Pearl Hazel Kawilarang.

Sumber :

Alex Kawilarang Layak Jadi Pahlawan Nasional

Jakarta, Kompas - Alex Kawilarang, yang pernah menumpas pemberontakan Andi Azis dan Kahar Muzakkar di Makassar serta pemberontakan Republik Maluku Selatan, layak untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Wacana ini berkembang dalam diskusi buku AE Kawilarang untuk Sang Merah Putih di Jakarta, Kamis (3/6). Buku terbitan Pustaka Sinar Harapan itu ditulis Ramadhan KH.

Usulan menjadi pahlawan itu disampaikan oleh Utaryo dan Alwin Nurdin. Keduanya mantan rekan seperjuangan Alex sejak masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Usulan juga disampaikan pengamat militer Jaleswari Pramodhawardani serta moderator Fadli Zon.

Pada 1949, Alex Kawilarang menjadi Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur di Makassar. Pada 1958, ia mengundurkan diri dari TNI. Tahun 1960-1961, ia menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Permesta.

Utaryo dan Alwin Nurdin, dalam dialog, menggambarkan bagaimana Alex yang pensiun sebagai kolonel terbuka dengan bawahan. Selain berani bertanggung jawab atas kesalahan anak buah, Alex juga berani mengakui kesalahannya.

Fadli Zon, tokoh muda Partai Gerindra, mengatakan, baik Alex Kawilarang maupun Sjafruddin Prawiranegara—keduanya pernah terlibat dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta)—layak menjadi pahlawan nasional karena jasanya. (EDN)


Alex Kawilarang adalah seorang tokoh yang KURANG BERUNTUNG dan menjadi korban dari KEADAAN. Sehingga menjadi jendral saja tidak tercapai padahal anakbuahnya bisa berpangkal jauh lebih tinggi. Persyaratan memjadi pahlawan nasional adalah BERSIH artinya tidak mempunyai riwayat yang dianggap buruk apalagi menjadi penghkianat. Tetapi Alex Kawilarang secara imosionil ( karena tidak tahu politik) meninggalkan posnya sebagai Milat di Washinton untuk bergabung dengan PERMESTA yang semuanya menjadikan kariernya di TNI yang gemilang menjadi hancur lebur.Contoh lain adalah ( DE) KANTER yang tidak bisa menjadi Jaksa Agung.