Pages

Tuesday, August 31, 2010

Indonesian Aerospace N-250


IAe N-250


The IAe N-250 is a regional aircraft commuter turboprop, an original design by the Indonesian firm IPTN (now PT Dirgantara Indonesia, PT DI, Indonesian Aerospace). Using the code N for Nusantara which means "Archipelago" indicates that the design, production, and the calculations were done in Indonesia by IPTN, who was the founder and pioneer in the Indonesian aviation industry. This contrasts with previous aircraft such as the CN-235 where the code CN stood for "CASA-Nusantara" or "CASA-IPTN", which means the aircraft was done in a joint venture between companies CASA in Spain and IPTN. The aircraft was named named Gatotkaca after a character from Mahābhārata.

This aircraft was IPTN's effort to win the market in 50-70 class passengers with advantages in its class (when it was launched in 1995). It was the star exhibits at the 1996 Indonesian Air Show in Cengkareng. But this plane was eventually dropped after the Asian financial crisis of 1997. The N-250 program was rebuilt by BJ Habibie after getting approval from the President Susilo Bambang Yudhoyono and the changes in Indonesia that are considered democratic. However, to reduce production costs and improve price competitiveness in international markets, changes were made which have reduced performance such as reduction in engine capacity, and the planned removal of the fly-by-wire system.


B.J. Habibie advocated production of the plane (although now he is not a director of IPTN) as the rival Fokker F-50 has not been produced since 1985, because of Fokker Aviation's bankruptcy in 1996.


HistoryN-250 development's plan was first revealed by PT IPTN (now PT Dirgantara Indonesia,Indonesian Aerospace) in Paris Air Show 1989. This aircraft prototyping technology fly by wire was started in 1992. The first plane (PA 1, 50 passengers) flew on August 10, 1995.

Rival aircraft include ATR 42-500, Fokker F50 and Dash 8-300.



Performance


This aircraft uses 2439 KW Allison AE 2100C turboprop engine. With 6 blade-propeller, it is able to fly with maximum speed of 610 km/h (330 miles / hour) and the economic speed of 555 km / h which is the highest speed in the 50 passengers turboprop class. Operating altitude of 25,000 feet (7620 meters) with a cruising range 1480 km. (In the new aircraft, engine capacity will be reduced which will reduce performance).



Specifications


* Wingspan: 28 meters

* Length: 26.30 meters

* Height: 8.37 meters

* Empty weight: 13,665 kg

* Max takeoff weight: 22,000 kg

(Although the 250 N engine capacity reduced, the dimensions will not be changed)




IN BAHASA INDONESIA / DALAM BAHASA INDONESIA




N-250


N-250

Tipe Transpor Sipil

Produsen IPTN/PT Dirgantara Indonesia

Perancang IPTN

Terbang perdana 10-08-1995

Diperkenalkan 1989

Status prototipe

Jumlah produksi 2 (1 sudah terbang , 1 belum selesai)


Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).


Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.

Pertimbangan B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu (sekalipun sekarang dia bukan direktur IPTN) adalah diantaranya karena salah satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak diproduksi lagi sejak keluaran perdananya 1985, karena perusahaan industrinya, Fokker Aviation di Belanda dinyatakan gulung tikar pada tahun 1996.



Performa Pesawat

Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison. Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km. (Pada pesawat baru, kapasitas mesin akan diturunkan yang akan menurunkan performa).



Berat dan Dimensi

* Rentang Sayap : 28 meter

* Panjang badan pesawat : 26,30 meter

* Tinggi : 8,37 meter

* Berat kosong : 13.665 kg

* Berat maksimum saat take-off (lepas landas) : 22.000 kg

(Meski mesin N 250 diturunkan kemampuannya, dimensi tidak akan diubah)



Sejarah


Rencana pengembangan N-250 pertama kali diungkap PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia, Indonesian Aerospace) pada Paris Air Show 1989. Pembuatan prototipe pesawat ini dengan teknologi fly by wire pertama di dunia dimulai pada tahun 1992. Pesawat pertama (PA 1, 50 penumpang) terbang selama 55 menit pada tanggal 10 Agustus 1995. Sedangkan PA2 (N250-100,68 penumpang) sedang dalam proses pembuatan.

Saingan pesawat ini adalah ATR 42-500, Fokker F-50 dan Dash 8-300.