Pages

Tuesday, March 09, 2010

Indonesian National Police Counter-Terrorism Squad / Detasemen Khusus 88

DENSUS 88

Special Detachment 88 (Detasemen Khusus 88), Delta 88, or Densus 88, is the Indonesian counter-terrorism squad, and part of the Indonesian National Police. Formed on 30 June 2003, after the 2002 Bali bombing, it is funded, equipped, and trained by the United States.

The unit has worked with considerable success against the jihadi terrorist cells linked to Central Java-based Islamist movement Jemaah Islamiyah.


History

Detachment 88 was formed after the 2002 Bali bombings  and became operational in 2003. The name of the organization is a result of a senior Indonesian police official mishearing "ATA" in a briefing on the US Department of State's Anti-Terorrist Assistance program as "88". He thought it would be a good name as the number 8 is a Numbers in Chinese culturelucky number in Asia and other officals lacked the courage to correct him.  However, according to Brig. Gen. Pranowo, the Indonesian Police Headquarter Anti-Terror Director, the number '88' is taken from the number of Australian fatalities in the 2002 Bali bombing, the largest number from a single country.  Detachment 88 has disrupted the activities of Central Java-based Islamist movement Jemaah Islamiyah (JI) and many of its top operatives have been arrested or killed.  Abu Dujana, suspected leader of JI's military wing and its possible emir, was apprehended on June 9, 2007.  Azahari Husin was shot and killed in 2005. The Indonesian terrorist organization suffered a further blow when arguably its last surviving and at-large prominent figure, Noordin M. Top was killed in a shootout against Detachment 88 on September 17th 2009 at Solo, Central Java.

Detachment 88 is assisted by foreign agencies, including the Australian Federal Police, in forensic sciences including DNA analysis, and communications monitoring. In pre-emptive strikes in Java, the unit thwarted attack plans to material assembly.

Detachment 88 operators were involved in an operation in Poso, where 10 people, including a policemen, were killed in a gunfight during a high-risk suspect arrest operation on January 22, 2007.

In 2007, Detachment 88 arrested and interrogated West Papuan human rights lawyer, Iwangin Sabar Olif, and charged him with incitement and insulting the head of state, because he sent an SMS text message critical of the Indonesian military and president. Detachment 88's operations include using US intelligence officers in its Jakarta headquarters to tap the phone calls and read the SMS text messages of Indonesian civilians.

 

Training

This special unit is being funded by the US government through its State Department's Diplomatic Security Service (DSS). The unit is currently being trained in Megamendung, 50 km south of Jakarta, by CIA, FBI, and US Secret Service. Most of these instructors were ex-US special forces personnel.

Detachment 88 is designed to become an anti-terrorist unit that is capable to counter various terrorist threats, from bomb threats to hostage situations. This 400-personnel strong special force went to full operation in 2005. They consist of investigators, explosive experts, and an attack unit that includes snipers.

 

 

IN BAHASA INDONESIA / DALAM BAHASA INDONESIA

 

 

Detasemen Khusus 88

Dibentuk     26 Agustus 2004  - kini
Negara     Flag of Indonesia.svg Indonesia
Cabang     Kepolisian Negara Republik Indonesia
Tipe     Pasukan Operasi Khusus
Spesialis     Anti-teror domestik dan penegakan hukum di Indonesia
Kekuatan     diperkirakan 400 personil
Mabes     Megamendung, Jakarta
Warna     Merah
Operasi     Silakan lihat Operasi yang diketahui
Komando
Kolonel
Resimen     Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian

Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana.

Detasemen 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

 

Pembentukan

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani  pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), sebuah undang-undang anti teror US, yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta.

 

Persenjataan

Satuan pasukan khusus baru Polri ini dilengkapi dengan persenjataan dan kendaraan tempur buatan Amerika Serikat, seperti senapan serbu Colt M4, senapan penembak jitu Armalite AR-10, dan shotgun Remington 870. Bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya. Semua persenjataan yang diberikan, termasuk materi latihan, diberitakan sama persis dengan apa yang dimiliki oleh satuan khusus antiteroris AS. 

 

Operasi yang diketahui


    * 9 November 2005 - Detasemen 88 Mabes Polri menyerbu kediaman buronan teroris Dr. Azahari di Kota Batu, Jawa Timur yang menyebabkan tewasnya buronan nomor satu di Indonesia dan Malaysia tersebut.
    * 2 Januari 2007 - Detasemen 88 terlibat dalam operasi penangkapan 19 dari 29 orang warga Poso yang masuk dalam daftar pencarian orang di Kecamatan Poso Kota. Tembak-menembak antar polisi dan warga pada peristiwa tersebut menewaskan seorang polisi dan sembilan warga sipil.[1]
    * 9 Juni 2007 - Yusron al Mahfud, tersangka jaringan teroris kelompok Abu Dujana, ditangkap di desa Kebarongan, Kemrajan, Banyumas, Jateng
    * 8 Agustus 2009 - Menggerebek sebuah rumah di Jati Asih, Bekasi dan menewaskan 2 tersangka teroris
    * 8 Agustus 2009 - Mengepung dan akhirnya menewaskan tersangka teroris di Temanggung.[2]
    * 17 September 2009 - Pengepungan teroris di Solo dan menewaskan 4 tersangka teroris salah satu diantaranya adalah Noordin Mohammed Top.